Keesokan harinya, kesibukan terlihat di perkemahan Monrest. Ribuan prajurit bergerak dengan teratur, membawa peralatan, senjata, dan berbagai bahan lainnya untuk membentuk formasi besar seperti yang diperintahkan oleh Leluhur Monrest. Lingkaran-lingkaran kompleks digambar di tanah, diisi dengan pola-pola rumit dengan pecahan batu meteor sebagai inti kekuatannya.

Leluhur Monrest, yang sebenarnya bernama Mao Ren, tapi generasi-generasi berikutnya salah menyebutnya dengan nama Monrest, berdiri di tengah kesibukan itu, memegang sebuah pecahan batu meteor di tangannya. Ia memandangi pecahan itu dengan tatapan penuh ambisi. "Dengan pecahan batu meteor ini," katanya, suaranya rendah namun penuh keyakinan, "aku bisa menggantikan batu spiritual tingkat tinggi untuk membentuk formasi. Kekuatannya lebih dari cukup."

Leluhur Monrest memeriksa pecahan itu dengan saksama, sebuah tanah biasa namun menjadi berubah bentuk karena kekuatan batu meteor asli. Pecahan itu baru dapat digunakan setelah menggunakan formasi khusus dengan mengorbankan darah manusia. Bibirnya melengkung menjadi senyuman tipis. "Xiao Tang, kamu terlalu angkuh di masa lalu," pikirnya, mengenang seorang kultivator besar yang dulu menjadi musuhnya karena tidak menyetujui rencana menggunakan kekuatan batu meteor untuk dapat keluar dari tempat ini.

"Apa salahnya mengorbankan para manusia, agar kita bisa hidup abadi dan keluar dari dunia ini? Lihatlah... pecahan ini, meski hanya lapisan tanah yang membungkus meteor selama ratusan tahun, sudah memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Apalagi jika aku menggunakan inti meteor itu sendiri."

Ia menggenggam pecahan itu lebih erat, seringai lebar terbentuk di wajahnya. "Aku, Mao Ren, akan membuat semua dimensi mengakui kekuatanku. Dengan ritual ini, aku akan menjadi penguasa segalanya!" pikirnya dengan sombong. Suara tawanya menggema, membuat para prajurit yang bekerja di dekatnya terdiam sesaat, takut akan murkanya jika mereka melakukan kesalahan.

Di sisi lain perkampungan, sebagian prajurit Monrest masih ditugaskan untuk mencari keberadaan Lynx yang hilang. Mereka menyisir setiap sudut, memeriksa jejak sekecil apa pun. Beberapa dari mereka mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan, tetapi ketakutan akan hukuman leluhur Monrest memaksa mereka terus bergerak.

"Di mana dia bisa bersembunyi?" gumam salah satu prajurit sambil menyeka keringat dari dahinya.

"Kita harus menemukannya sebelum acara dimulai," sahut yang lain, suaranya penuh kekhawatiran. "Kalau tidak, kita mungkin akan bernasib seperti penjaga yang dibunuh semalam."

Meskipun pencarian mereka tanpa hasil, leluhur Monrest tetap memerintahkan mereka untuk terus mencari hingga saat ritual dimulai.

***

Saat matahari hampir lurus di atas kepala, menandakan tengah hari yang panas dan terik, Leluhur Monrest melayang di udara, mengamati dari atas dengan mata yang tajam. Energi spiritualnya menyebar ribuan kilometer, memastikan tidak ada yang mencurigakan di sekitar area ritual.

"Ini adalah satu-satunya kesempatan," pikirnya sambil terus melayang dengan anggun. "Portal yang kubuka harus sempurna. Setelah ini, jumlah penduduk yang tersedia untuk dikorbankan tidak akan mencukupi lagi. Jika aku gagal, aku harus mengorbankan pasukanku sendiri, dan itu tidak boleh terjadi. Pasukan ini sangat penting untuk rencanaku menaklukkan dimensi lain."

Mata Monrest menyapu susunan formasi di bawahnya. Pecahan batu-batu meteor kecil sudah tepat posisinya, yang nantinya akan memancarkan energi yang dimilikinya untuk menghidupkan formasi. Ia tersenyum tipis, merasa puas dengan hasil kerja para prajuritnya. "Tidak lama lagi," gumamnya dengan suara rendah, seringai kejam menghiasi wajahnya.

Sementara itu, di dalam cekungan tempat para penduduk Surya ditahan, suasana begitu sunyi. Matahari yang terik membuat udara terasa berat, hampir tidak ada angin yang berhembus. Rasa haus dan panas yang menyiksa membuat para penduduk terdiam, hanya suara napas berat dan sesekali desahan lemah yang terdengar. Leluhur Monrest telah membuat formasi pelindung agar mereka tetap hidup hingga waktu pengorbanan tiba, tetapi rasa sakit dan penderitaan mereka dibiarkan, menjadi awal dari penderitaan ritual yang lebih besar.

Leena duduk di sudut cekungan, memeluk lututnya erat-erat. Wajahnya pucat, rambutnya basah oleh keringat, tetapi ia tidak mengeluh. Ia hanya menatap tanah, pikirannya melayang ke keluarganya yang entah bagaimana kabarnya. "Akhirnya... perjalanan ini akan usai," batinnya getir. "Ayah, Ibu, maafkan aku. Aku tidak bisa lagi bertemu kalian. Aku tidak tahu apa yang terjadi di rumah selama aku tidak ada."

Dengan napas berat, ia mendesah, hampir seperti bisikan, "Lynx..."

Lala yang duduk di sebelahnya menoleh, mendengar Leena menyebut nama itu. Ia melihat wajah sahabatnya yang murung, lalu bertanya dengan suara pelan, seperti berbicara pada dirinya sendiri, "Apakah dia baik-baik saja?"

Leena menoleh ke arah Lala, berusaha tersenyum, meskipun senyum itu lebih terlihat seperti raut kelelahan. "Aku... tidak tahu," jawabnya dengan nada getir. "Tapi aku harap dia baik-baik saja dan bisa kembali ke dunianya dengan selamat."

Narendra duduk di sisi lain cekungan, memeluk adiknya, Kanha, yang mulai kelelahan karena panas. Tubuh kecil Kanha yang biasanya terlihat lincah kini terlihat lemas, tetapi Narendra tetap mencoba melindunginya sebisa mungkin. Sejak pagi, dia menempatkan tubuhnya sedemikian rupa agar bisa menghalangi sinar matahari yang menusuk langsung ke arah Kanha dan Lala.

Namun, seiring waktu, matahari yang semakin tinggi membuat usahanya sia-sia. Kini Narendra hanya bisa duduk diam, memeluk Kanha erat-erat, sambil sesekali mencuri pandang ke arah Lala. Matanya yang biasanya penuh percaya diri kini memancarkan kekhawatiran dan rasa tidak berdaya.

Leena, yang memperhatikan mereka, melihat bagaimana Narendra selalu berusaha melindungi Lala, bahkan di tengah situasi seperti ini. Senyuman kecil muncul di wajahnya, meskipun itu tidak menghapus rasa pedih di hatinya.

Di tengah keheningan yang penuh penderitaan, suasana di cekungan itu terasa seperti menunggu akhir yang tak terhindarkan. Namun, di balik itu, harapan kecil masih bersembunyi di hati setiap penduduk Surya, meski mereka tidak berani mengungkapkannya secara terbuka. Mereka berharap keajaiban akan datang. Mereka berharap Lynx akan muncul seperti biasanya menyelamatkan mereka.

"Lala, kita kemungkinan besar tidak akan selamat kali ini. Apakah kamu tidak menyadari perasaan Narendra kepadamu?" tanya Leena pelan, nadanya lemah, seolah berusaha mengalihkan perhatian dari rasa takut yang menggantung di hatinya.

Lala melirik sekilas ke arah Narendra, yang duduk beberapa langkah dari mereka, memeluk adiknya dengan penuh kasih. Ia menghela napas perlahan, mencoba meredakan gejolak yang muncul di pikirannya. Bukannya ia tidak tahu. Selama ini, upaya Narendra untuk mendekatinya terlalu canggung, hampir primitif, sesuatu yang membuatnya sering tersenyum kecil. Namun, Narendra tidak pernah benar-benar berani mengungkapkan apa yang ia rasakan. Sebagai penduduk asli yang tidak terlalu mengenal tata krama, Narendra terlalu takut dengan penolakan sehingga membuatnya hanya berani menunjukkan perhatiannya melalui tindakan sederhana.

"Aku tahu," jawab Lala akhirnya, dengan suara yang hampir berbisik. "Tapi aku sedang tidak ingin memikirkan soal hubungan. Selain itu... sudah ada seseorang yang kusuka," lanjutnya, sambil menundukkan kepala dan menghela napas.

"Apakah itu Lynx?" Leena menatapnya dengan senyum kecil, langsung ke intinya.

Lala terdiam, matanya tidak berani menatap Leena. Tetapi dalam diamnya itu, sudah tergambar jawaban yang jelas. Leena tersenyum lebih lebar, meskipun wajahnya masih menyiratkan kelelahan dan kesedihan.

"Lala, seperti yang aku bilang tadi, kita kemungkinan besar tidak akan selamat. Jadi, tidak ada gunanya menyembunyikan apa yang kita rasakan. Kita bisa saling jujur, agar tidak menjadi penyesalan."

Lala mengangkat wajahnya, menatap Leena untuk memastikan apakah temannya itu sedang bercanda. Namun ekspresi serius di wajah Leena tidak menunjukkan sedikit pun tanda main-main. Lala akhirnya tersenyum tipis, menundukkan kepala, dan merangkul kakinya erat-erat. "Entahlah, Leena," katanya dengan suara lirih. "Aku tidak tahu. Tapi yang aku sangat tahu, hanya ada kamu di hatinya Lynx. Tidak ada wanita lain."

Kata-kata itu diucapkan dengan perlahan, tetapi ada kejujuran yang mendalam di dalamnya. Lala tahu, dari setiap interaksi yang ia perhatikan, sikap Lynx selalu berubah ketika bersama Leena. Bersama Leena, Lynx sering terlihat lebih santai, bahkan suka bercanda dan tertawa, sesuatu yang hampir tidak pernah ia tunjukkan kepada orang lain. Beban tanggung jawab yang Lynx emban sebagai kepala suku sering membuatnya terlihat serius, bahkan dingin. Tetapi di hadapan Leena, semua itu seperti menghilang, meski hanya untuk sekejap.

Leena tidak langsung menjawab. Kata-kata Lala itu seperti menyentuh sesuatu di dalam dirinya yang selama ini ia coba abaikan. Ia tersenyum lemah, lalu menatap ke arah Narendra dan Kanha yang duduk di sudut cekungan. Narendra, meski jelas kelelahan, tetap berusaha melindungi Lala, bahkan dalam kondisi seperti ini. Leena menarik napas panjang, merasa lebih tenang sedikit, meski hatinya tetap dipenuhi rasa cemas akan apa yang akan terjadi selanjutnya.

